Mineral Dan Sifat Fisik Mineral

Sifat-sifat Fisik Mineral

Mineral adalah hasil bentukan alam yang berupa senyawa bahan padat, umumnya berbentuk kristal, homogen, dan mempunyai sifat fisik maupun kimia yang khas. Tiap mineral memiliki susunan atom yang teratur dan komposisi kimia tertentu, yang memberikan sifat fisik yang specifik. Untuk menentukan struktur atom dan komposisi kimia suatu mineral diperlukan test dan peralatan yang satisfied.
Komposisi kimia suatu mineral merupakan hal yang sangat mendasar, karena beberapa sifat-sifat mineral/kristal tergantung kepadanya. Sifat-sifat mineral/ kristal tidak hanya tergantung kepada komposisi tetapi juga kepada susunan meruang dari atom-atom penyusun dan ikatan antar atom-atom penyusun kristal/mineral.
Penentuan nama mineral dapat dilakukan dengan membandingkan sifat-sifat fisik mineral antara mineral yang satu dengan mineral yang lainnya. Sifat-sifat fisik mineral tersebut meliputi:
1.      Warna ( Colour )
Warna mineral adalah warna yang ditangkap oleh mata bilamana mineral tersebut terkena sinar. Dalam mendeterminasi biasanya warna yang dideterminasi adalah warna lapuk dan warna segarnya.
Sifat fisik ini tidak dapat dijadikan dasar untuk menentukan jenis mineral walaupun sifat fisik yang paling mudah dikenali. Jika mengalami pengotoran, mineral yang sama dapat memiliki warna yang berbeda.Warna mineral dapat dibedakan menjadi dua, yaitu idiokromatik, bila warna mineral selalu tetap, umumnya dijumpai pada mineral-mineral yang tidak tembus cahaya (opaq), seperti galena, magnetit, pirit, dan alokromatik, bila warna mineral tidak tetap, tergantung dari material pengotornya. Umumnya terdapat pada mineral-mineral yang tembus cahaya, seperti kuarsa, kalsit.

2.      Kilap ( Luster )
Kilap mineral merupakan kesan mineral yang kita dapatkan dari hasil pemantulan cahaya atau sinar oleh bidang permukaan mineral yang dikenakan padanya. Kilap dibedakan menjadi dua, yaitu kilap logam (metalik) dan kilap non logam.
Mineral dikatakan memiliki sifat kilap logam jika kesan yang dihasilkan oleh pemantulan sinar pada permukaan mineral tersebut seperti logam yang memantulkan sinar pada permukaannya. Kilap ini biasanya dijumpai pada mineral-mineral yang mengandung logam atau mineral bijih, seperti emas, galena, pirit, kalkopirit, grafit dan arsoenopirit.
Sedangkan kilap non logam tidak memberikan kesan seperti logam jika terkena cahaya. Kilap jenis ini dapat dibedakan menjadi :
§  Kilap kaca ( vitreous luster ) memberikan kesan seperti kaca bila terkena cahaya, misalnya: kalsit, kuarsa, halit.
§  Kilap intan ( adamantine luster ) memberikan kesan cemerlang seperti intan, misalnya: intan.
§  Kilap sutera ( silky luster ) memberikan kesan seperti sutera, umumnya terdapat pada mineral yang mempunyai struktur serat, misalnya: asbes, aktinolit, gipsum.
§  Kilap damar ( resinous luster ) memberikan kesan seperti damar, misalnya: sfalerit dan resin.
§  Kilap mutiara ( pearly luster ) memberikan kesan seperti mutiara atau seperti bagian dalam dari kulit kerang, misalnya talk, dolomit, muskovit, serpentine dan tremolit.
§  Kilap lemak ( greasy luster ) menyerupai lemak atau sabun, misalnya: nefelin.
§  Kilap tanah ( earthy ) atau kilap guram ( dull ) kenampakannya buram seperti tanah, misalnya: kaolin, limonit, bentonit.


3.      Bentuk Mineral ( Form )
Bentuk mineral adalah bentuk khas yang diperlihatkan dari mineral tersebut baik dalam kristal tunggal maupun berupa kumpulan. Di bawah ini beberapa bentuk mineral:
§  Granular yakni bentuk mineral dengan kenampakan berupa butiran-butiran mineral yang mempunyai dimensi sama.
§  Acicular yakni bentuk mineral dengan kenampakan menyerupai jarum.
§  Fibrous yakni bentuk mineral dengan kenampakan menyerupai serat-serat halus.
§  Globular yakni bentuk mineral dengan kenampakan menyerupai gelembung udara atau menyerupai balon.
§  Lammelar  yakni bentuk mineral dengan kenampakan berupa piringan-piringan tipis.
§  Filiform yakni bentuk mineral dengan kenampakan menyerupai untaian rambut
§  Bladed yakni bentuk mineral  dengan kenampakan pipih dan memanjang
§  Massive yakni bentuk mineral dengan kenampakan bidang tak teratur dan bersifat padat
§  Kubik yakni bentuk mineral dengan kenampakan menyerupai kubus dengan dimensi panjang yang sama, istilah ini biasa digunakan untuk kenampakan mineral tunggal
§  Dendritik yakni bentuk mineral kenampakan menyerupai percabangan dan ranting pohon
§  Radiating yakni bentuk mineral dengan kenampakan dua dimensi yang memperlihatkan kesan radiasi atau memancar dari satu pusat radiasi
§  Prismatik yakni bentuk mineral dengan kenampakan menyerupai bangun tiga dimensi dengan dimensi tinggi lebih panjang dari dimensi lainnya
§  Saccaroidal/Drusy yakni bentuk anggregasi dari mineral berukuran kecil dengan pola yang menyebar menyerupai sebaran gula
§  Foliated yakni bentuk mineral dengan kenampakan berupa foliasi atau bentuk penjajaran-penjajaran yang terorientasi dan teratur
§  Mammiliary yakni bentuk mineral dengan kenampakan menyerupai gelembung udara dalam ukuran besar
§  Micaceous yakni bentuk mineral yang memipih atau melebar yang umum dijumpai pada mineral-mineral mika
§  Bytrodal yakni bentuk mineral dengan kenampakan meyerupai kumpulan buah anggur

4.      Cerat/Warna Goresan ( Streak )
Cerat atau warna goresan adalah warna yang didapatkan jika mineral dalam bentuk bubuk halus. Meskipun warna mineral dapat bermacam-macam, tetapi ceratnya selalu sama. Warna cerat merupakan warna asli mineral. Dapat membantu untuk membedakan mineral metalik dan nonmetalik. Mineral metalik biasanya memiliki cerat lebih gelap.
Selain dengan menumbuk sampai halus, cara memperoleh warna tersebut umumnya dengan menggoreskan mineral pada keping porselen yang kasar permukaannya. Seperti contoh emas yang berwarna kuning dan pyrit miliki warna cerat hitam.

5.      Belahan ( Cleavage )
Belahan merupakan salah satu sifat fisik mineral yang membelah pada bidang yang rata. Belahan adalah kecendrungan mineral untuk pecah melalui bidang yang rata. Tidak semua mineral memiliki sifat ini. Mineral yang memiliki bidang belah diketahui dengan menunjukkan adanya bidang yang rata apabila mineral tersebut dipecahkan. Contohnya mika, karena mika memiliki belahan satu arah maka mineral tersebut hancur akan membentuk lembaran-lembaran yang tipis. Mineral dapat memiliki belahan beberapa arah, tetapi ada pula yang tidak memiliki bidang pembelahan. Mineral yang memiliki belahan lebih dari satu arah dikenal dengan jumlah bidang rata yang ditunjukkan dan sudut yang dibentuk oleh bidang belahannya. Bidang belahan umumnya sejajar dengan bidang tertentu dari mineral tersebut. Belahan dibagi berdasarkan bagus tidaknya permukaan bidang belahan, yaitu :
§  Sempurna ( perfect ), bila bidang belahan sangat rata, bila pecah tidak melalui bidang belahan agak sukar
§  Baik ( good ), bidang belahan rata, tetapi tidak sebaik yang sempurna, masih dapat pecah pada arah lain
§  Jelas ( distinct ), bidang belahan jelas, tetapi tidak begitu rata, dapat dipecah pada arah lain dengan mudah
§  Tidak jelas ( indistinct ), dimana kemungkinan untuk membentuk belahan dan pecahan akibat adanya tekanan adalah sama besar
§  Tidak sempurna ( imperfect ), dimana bidang belahan sangat tidak rata, sehingga kemungkinan untuk membentuk belahan sangat kecil daripada untuk membentuk pecahan.

6.      Pecahan  ( Fracture )
Pecahan adalah suatu permukaan yang terbentuk akibat pecahnya suatu mineral, memotong bidang belahan dan umumnya tidak teratur yang diakibatkan adanya tekanan pada mineral yang melebihi batas plastis mineral tersebut. Dalam determinasi pecahan dibagi menjadi:
§  Pecahan konkoidal, bila memperlihatkan gelombang yang melengkung di permukaan, dimana pecahan seperti kulit bawang, misalnya kuarsa.
§  Pecahan berserat/fibrus, bila menunjukkan kenampakan seperti serat, misalnya asbes, augit
§  Pecahan tidak rata ( uneven ), bila memperlihatkan permukaan yang tidak teratur dan kasar seperti kebanyakan mineral, misalnya   pada garnet
§  Pecahan rata, bila permukaannya rata dan cukup halus, misalnya mineral lempung
§  Pecahan runcing ( hackly ), bila permukaannya tidak teratur, kasar, dan ujungnya runcing-runcing, misalnya mineral kelompok logam.

7.      Kekerasan (Hardness)
Kekerasan merupakan suatu sifat yang ditentukan oleh susunan dalam dari atom-atom. Kekerasan adalah salah satu sifat fisik mineral, yaitu daya tahan mineral terhadap abrasi atau goresan. Kekerasan suatu mineral yang belum diketahui dapat diukur dari penggoresan dengan mineral lain yang telah diketahui kekerasannya. Nilai kekerasan dapat disebandingkan dengan skala Mohs, yaitu urutan kekerasan mineral mulai dari 1 sampai 10 yang terdiri dari 10 mineral.
Secara relatif sifat fisik ini ditentukan dengan menggunakan skala Mohs (1773 – 1839), yang dimulai dari skala 1 yang paling lunak hingga skala 10 untuk mineral yang paling keras.

SKALA MOHS

Derajat Kekerasan
Jenis Mineral
1
Talk
2
Gipsum
3
Kalsit
4
Fluorit
5
Apatit
6
Orthoklas
7
Kuarsa
8
Topas
9
Korundum
10
Intan

Dalam mendeterminasi mineral biasanya digunakan alat bantu sederhana. Berikut ini hubungan beberapa alat yang digunakan untuk mengukur kekerasan dengan derajat kekerasan mineral :

Jenis Alat dan Perlakuan
Derajat Kekerasan
Kuku
2,5
Kawat tembaga
3
Pecahan kaca
5,5 - 6
Pisau baja
6 - 6,5
Kikir baja
6,5 - 7

8.       Sifat Dalam ( Tenacity )
Sifat dalam adalah sifat mineral bila kita berusaha untuk mematahkan, memotong, menghancurkan, membengkokkan, atau mengiris. Sifat dalam merupakan reaksi mineral terhadap gaya yang mengenainya, seperti penekanan, pemotongan, pembengkokan, pematahan, pemukulan atau penghancuran. Sifat dalam dapat dibagi menjadi:
§  Rapuh ( brittle ) yaitu mudah hancur jika dipukul dengan palu dan menjadi bubuk, misalnya kuarsa, orthoklas, kalsit dll
§  Dapat diiris ( sectile ) yaitu dengan pisau, hasil irisan rapuh
§  Dapat dipintal ( ductile ) yaitu mineral dapat ditarik/diulur seperti kawat, dimana jika mineral ditarik dapat berubah menjadi panjang.
§  Dapat ditempa ( malleable ) yaitu dapat ditempa menjadi lapisan yang tipis seperti pada emas dan tembaga
§  Kenyal/lentur ( elastic ) yaitu mineral dapat dibengkokkan tanpa menjadi patah dan akan kembali seperti semula jika tekanan dihentikan
§  Fleksibel ( flexible ) yaitu mineral dapat dibengkokkan tanpa menjadi patah dan sesudah menjadi bengkok tidak kembali seperti semula

9.       Berat Jenis ( Specific Gravity )
Berat jenis mineral adalah perbandingan antara berat mineral diudara terhadap volumenya. Dalam mendeterminasi berat jenis mineral umumnya dilakukan di laboratorium dengan melakukan pengukuran berat mineral diudara dan membandingkannya dengan volumenya didalam air. Alat yang sering digunakan yaitu timbangan jolly. Untuk menentukan berat jenis yang lebih teliti digunakan alat yang bernama piknometer.

10.   Kemagnetan
Kemagnetan adalah sifat mineral terhadap daya tarik magnet. Dalam determinasi mineral berdasarkan sifat kemagnetannya dibagi menjadi :
a.       Ferromagnetik
Mineral dikatakan memiliki sifat ini jika mineral dengan mudah tertarik oleh gaya magnet, seperti mineralMagnetit dan Phyrhotit
b.      Diamagnetik
Mineral dikatakan memiliki sifat ini jika tidak tertarik oleh gaya magnet
c.       Paramagnetik
Mineral dikatakan memiliki sifat ini karena dapat tertarik oleh gaya magnet tapi tidak sekuat ferromagnetik
            Cara mengetahui sifat kemagnetan mineral dapat dilakukan dengan metode sederhana, yaitu dengan mendekatkan magnet batang ke mineral dengan perlahan-lahan kemudian perhatikan gejala yang diperlihatkan oleh mineral selanjutnya sesuai dengan sifat kemagnetan seperti yang disebutkan diatas.
11.   Derajat Kejernihan ( Diaphaneity )
Derajat Kejernihan ( diaphaneity ) merupakan kemampuan mineral untuk mentransmisikan atau menyalurkan cahaya yang masuk ke dalam mineral. Dalam determinasi mineral berdasarkan derajat kejernihan dibagi menjadi :
a.       Opaq
Mineral dikatakan memiliki sifat ini jika mineral sukar atau tidak bisa mentransmisikan cahaya yang masuk kedalam mineral tersebut. Mineral logam umumnya bersifat opaq, seperti Limonit, Magnetit, Pirit, Kalkopirit.
b.      Translucent
Mineral dikatakan memiliki sifat ini jika mineral dapat mentransmisikan cahaya dalam jumlah yang terbatas. Contoh mineralnya yaitu Topaz, Kloritoid, Epidot, Kaolinit
c.       Transparan
Mineral dikatakan memiliki sifat ini jika mineral dapat dengan mudah mentransmisikan atau menyalurkan cahaya yang masuk dalam mineral tersebut. Contoh mineralnya yaitu Kuarsa, Beryl, Kalsit
First